.
Jumat, 15 April 2016
Jumat, 07 Desember 2012
TIPS MEMILIH SEKOLAH YANG BAIK
Belum lama ini para orang tua sibuk mencari sekolah untuk anak-anaknya,hilir mudik ke sekolah yang diinginkan dengan bermodalkan nilai ijazah,terbersit di hati saya ada rasa kagum ,karena orang tua sekarang sangatlah peduli terhadap nasib anak-anaknya ke depan.
Katakanlah Pak Andi,ia berprofesi sebagai guru seni rupa, di salah satu sekolah,ia berujar ‘anaknya harus lulus masuk ke SMP Negeri pilihan,karena ia melihat nilai rata-rata di ijazah anaknya tinggi,untuk SD nilai rata-rata 2.7 adalah nilai yang lumayan pada saat itu,akhirnya ia pun mendaftarkan anaknya.Dengan proses yang sedemikian rupa akhirnya anaknya pun di terima ,rasa bangga tersirat di wajahnya yang sedikit keriput.
Setahun kemudian pak Andi berkata kepada saya,saya cukup senang karena telah memberi les untuk anak selama ia di Sekolah Dasar ,karena sekarang ia bisa masuk SMP negeri, di sana saya tidak dibebankan biaya apapun terlebih lagi kualitasnya bagus.
Itulah sedikit gambaran dari masyarakat kita sekarang,selain mencari sekolah yang bebas biaya pastinya harus berkualitas.
jika ingin sedikit membahas apa saja kriteria Sekolah Yang Baik,mungkin diantaranya adalah :
1.Kualitas. bagaimana cara menentukan sekolah tersebut berkualitas atau tidak. Di sekolah pada umumnya ada istilah akreditasi atau kegiatan penilaian sekolah,penilaian tersebut secara sistematis yang nantinya untuk menentukan kelayakan dan kinerja sekolah.dan hasil dari akreditasi tadi,sekolah akan mendapatkan pengakuan dari BAN (Badan Akreditasi Nasional) yang merupakan bagian dari Kementrian Pendidikan. jika hasil akreditasi A,maka bagus sekolahnya tapi jika C mungkin perlu banyak evaluasi.
2. Jarak,mungkin ini bersifat relatif,tapi meskipun begitu tetap menjadi acuan,karena jika anak mendapatkan sekolah yang bagus namun jaraknya terlalu jauh,energinya akan habis di perjalanan,dan konsentrasi belajar di kelas akan kurang bahkan tidak sama sekali karena kelelahan.
3.Kurikulum.ibarat memakan pisang goreng,kurikulum merupakan pisang dari pisang goreng tersebut,mengingat sekarang era globalisasi dimana anak di tuntut untuk bisa berbahasa inggris secara aktif dan fun, mungkin bisa memilih sekolah yang berkurikulum nasional plus atau Internasional.
4. Biaya,hal terakhir ini merupakan kunci utama,karena orang tua mana yang tidak menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang bagus dan terbaik,namun yang perlu diketahui tidak semua sekolah yang bagus harus selalu mahal,maka dari itu carilah sekolah yang bagus dengan biaya yang murah.KOMPASIANA.COM
Sabtu, 12 Mei 2012
sergurkemenag Lamongan
DAFTAR FOTO GURU
MI. QOMARUL WATHON TURI
![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
Kepala Madrasah
|
Waka Kurikulum
|
Waka Kesiswaan/Ka. Lab. Komputer
|
Waka Prasarana
|
Senin, 12 Maret 2012
NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI USWATUN HASANAH BAGI ORANG YANG INGIN MENEMUI ALLAH
Pada tanggal 12 Rabiul awal tahun gajah atau tanggal 20 April 571 Masehi yang lalu telah lahir seorang manusia yang menjadi Rahmatan Lil Alamin dan menyandang derajat keterpujian yang tidak terukur ketinggian dan kesempurnaannya serta kelak membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia. Manusia tersebut adalah Ahmad yang kemudian menyandang nilai-nilai Ke-Muhammad-an yang sangat tinggi sehingga beliau berhak menyandang gelar Muhammad yaitu yang sangat terpuji dan selalu dipuja dan dipuji, yang menjadi Rahmatan Lil Alamin dan Uswatun Hasanah bagi seluruh makhluk yang ada di alam semesta Raya ini.
Kata Muhammad apabila kita renungkan lebih dalam lagi dapat diartikan secara lahiriah maupun secara batiniah, yaitu :
Pertama, Muhammad secara lahiriah adalah menunjuk kepada satu sosok seorang manusia biasa yang mempunyai sifat terpuji dan diutus oleh Allah untuk menyampaikan seruan atau ajaran Tauhid kepada seluruh umat manusia.
Katakanlah : “sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Maha Esa….” (QS Al Kahfi 18 : 110).
Sebagai manusia biasa, Muhammad merupakan prothotype manusia sempurna yang patut menjadi Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia. Sebutan “Manusia Sempurna” sering disalahartikan oleh sebagian besar umat Islam, yakni Manusia sempurna adalah sosok manusia yang serba bisa, serba tahu, serba baik dan lain sebagainya. Padahal jika kita kaji dan renungkan kembali hakikat dari istilah “Sempurna” itu, mempunyai unsur keseimbangan, kesepadanan, kesesuaian dan keharmonisan dalam hal apapun. Dalam kajian Tauhid, kesempurnaan yang paling sempurna pada hakikatnya adalah Allah SWT itu sendiri. Apa yang diciptakan Allah di alam semesta ini merupakan ciptaan yang Maha Sempurna dan tidak ada yang sia-sia, sesuai dengan firman-Nya :
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah, sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang”?. (QS Al Mulk 67 : 3).
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapa orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka” (QS Shad 38 : 27).
“…Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali Imran 3 : 191).
Berdasarkan firman tersebut dapat diambil suatu pengertian bahwa apa yang terjadi dan apa yang dicipta di alam semesta ini adalah suatu kesempurnaan yang tidak sia-sia, baik sifat maupun bentuknya. Misalnya seperti : baik-buruk, indah-jelek, terpuji-tercela, siang-malam, panas-dingin, panjang-pendek, siang-malam, pria-wanita, besar-kecil dan sebagainya. Jadi suatu kesempurnaan adalah satu keseimbangan antara dua sifat atau unsure yang dikotomis atau bertolak belakang, sebab apabila hanya ada satu sifat saja atau ada baik saja, atau ada siang saja, atau ada dingin saja, hal itu bukanlah suatu yang dapat disebut sempurna.
Dengan dalih bahwa kita tidak akan sanggup mencapai derajat sempurna seperti Nabi Muhammad, banyak umat Islam merasa tidak perlu mencontoh semua apa yang telah diteladani oleh Nabi Muhammad SAW, terutama peristiwa Isra’ dan Mi’raj-nya beliau. Padahal sebagai Guru Besar bidang Tauhid Islam, beliau akan senang apabila seluruh umatnya dapat mencontoh semua teladannya., baik lahir maupun batin, bahkan beliau akan lebih senang lagi apabila ada umatnya yang dapat melebihi beliau.
Di dalam Al Qur’an telah diterangkan bahwa Muhammad SAW adalah contoh yang paling baik bagi umat manusia yang menghendaki perjumpaan dengan Allah ketika kita masih hidup di atas dunia. Hal ini sesuai dengan firman Allah ;
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan menemui Allah dan Hari Akhir dan mengingat Allah sebanyak-banyak” (QS Al Ahzab 33 : 21).
Sebagian ahli tafsir, banyak yang menterjemahkan ayat tersebut dengan iftiro atau menambah-nambahkan ayat tersebut dengan kata “mengharapkan rahmat Allah”, padahal bunyi sebenarnya adalah “Laqod kaana lakum fii Rasulillahi uswatu hasanatun liman kaana yaarjullohu walyaumil akhirawadzakarooloha kasyiron”.
Dalam ayat tersebut terdapat kata “yarjulloha” yang berarti mengharap Allah. Jadi bukan mengharapkan rahmat Allah atau mengharapkan ridha Allah, atau mengharapkan pahala Allah, atau mengharapkan rezeki Allah, tetapi yang benar adalah mengharapkan Allah semata. Bahkan kalau boleh dipertegas lagi ayat tersebut bermakna : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang paling baik bai kamu, yaitu bagi orang yang mengharapkan menemui Allah dan hari akhir dan banyak mengingat Allah”. Berdasarkan ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa Rasulullah adalah contoh yang paling baik bagi umat manusia yang ingin mengharapkan bertemu dengan Allah di dunia ini, dan juga bertemu dengan hari akhir, agar kita dapat mengingat Allah sebanyak-banyaknya. Sebab mustahil kita dapat mengingat Allah apabila kita belum pernah bertemu dan melihat Allah.
Kedua, Muhammad secara batiniah adalah suatu anasir Yang Bersifat Terpuji, yang telah dimiliki oleh setiap manusia tanpa kecuali. Tetapi yang sangat disayangkan adalah bahwa tidak semua umat manusia yang menyadari keberadaan anasir tersebut, apalagi menumbuhkannya dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga tidaklah mengherankan apabila banyak orang yang mengaku umat Muhammad atau umat yang sangat terpuji, justru banyak melakukan perbuatan tercela. Hal ini diakibatkan karena mereka belum dapat meneyerap Muhammad dalam arti nilai-nilai keterpujian, di setiap aktivitas hidupnya dalam bermasyarakat. Padahal setiap harinya mereka selalu mengatakan : “Aku telah menyaksikan bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan aku telah menyaksikan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah”. Kalimat Syahadat tersebut mempunyai makna yang sangat dalam sekali, yaitu saksinya seorang pesaksi yang menyaksikan kepada siapa dia bersaksi. Secara hakikat, makna simbolis dari “wa asyhadu an la Muhammad Rasulullah” adalah sebuah pengakuan bahwa setiap diri telah ditempati oleh anasir Terpuji yaitu Nur Muhammad, yang harus diimani dan diikuti sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur’an dan juga sabda Nabi Muhammad SAW :
“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam dirimu ada Rasulullah …” (QS Al Hujurot 49 : 7).
Katakanlah : “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” QS Ali Imran 3 : 31).
“Muhammad itu sekali-kalilah bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup Nabi-Nabi. Dan sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segalanya” (QS Al Ahzab 33 : 40).
“Orang-orang yang telah kami beri Al Kitab, mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya” (QS Al Baqarah 2 : 146).
“Ana ahmad bi la mim, wa ana ‘arabbi bi la ‘ain, wa man roaini, innaroaitul haq” Aku ahmad tanpa huruf mim dan aku adalah ‘arabbi tanpa huruf ‘ain, barang siapa melihat aku, sesungguhnya telah melihat Sang Maha Benar” (Hadits).
“Yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWT adalah Cahaya-ku, wahai Jabir (HR Ibnu jabir). “Siapa saja yang mengatakan Muhammad Rasulullah telah mati, akan saya bunuh !” (Umar bin Khatab)
“Siapa yang menyembah Muhammad bin Abdullah, beliau telah mati. Siapa yang menyembah Wajah Allah, Dia-lah Yang Maha Abadi” (Abu Bakr Ash Shidiq)
“Dan janganlah kamu anggap mati orang-orang mati di Jalan Allah, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dan diberi Rezeki” (QS 3 : 169)
“Aku adalah Ahmad tanpa huruf mim. Aku adalah ‘Arabbi tanpa huruf ‘ain. Barang siapa melihat aku, sesungguhnya ia telah melihat Al Haqq” (Hadits)
“Sebuah makam dan kubah dan menara kecil tidaklah menyenangkan bagi para pengikut Yang Maha Besar.
“Makammu bukanlah diperindah oleh batu, kayu dan plesteran.
Bukan, bukan itu, melainkan dengan menggali makam untuk dirimu sendiri dalam kesucian ruhani dan menguburkan egoisme dirimu dalam Egoisme-Nya.
Dan menjadi debu-Nya dan terkubur dalam Cinta-Nya, sehingga Nafas-Nya dapat memenuhi dan menghidupimu”
(Jalaluddin Ar Rumi)
“Ya Nabi Salam ‘alaika. Ya Rasul Salam ‘alaika. Anta Syamsun, anta Badrun, anata Nuurun fauqo Nuurin !”
Pertama, Muhammad secara lahiriah adalah menunjuk kepada satu sosok seorang manusia biasa yang mempunyai sifat terpuji dan diutus oleh Allah untuk menyampaikan seruan atau ajaran Tauhid kepada seluruh umat manusia.
Katakanlah : “sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Maha Esa….” (QS Al Kahfi 18 : 110).
Sebagai manusia biasa, Muhammad merupakan prothotype manusia sempurna yang patut menjadi Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia. Sebutan “Manusia Sempurna” sering disalahartikan oleh sebagian besar umat Islam, yakni Manusia sempurna adalah sosok manusia yang serba bisa, serba tahu, serba baik dan lain sebagainya. Padahal jika kita kaji dan renungkan kembali hakikat dari istilah “Sempurna” itu, mempunyai unsur keseimbangan, kesepadanan, kesesuaian dan keharmonisan dalam hal apapun. Dalam kajian Tauhid, kesempurnaan yang paling sempurna pada hakikatnya adalah Allah SWT itu sendiri. Apa yang diciptakan Allah di alam semesta ini merupakan ciptaan yang Maha Sempurna dan tidak ada yang sia-sia, sesuai dengan firman-Nya :
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah, sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang”?. (QS Al Mulk 67 : 3).
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapa orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka” (QS Shad 38 : 27).
“…Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali Imran 3 : 191).
Berdasarkan firman tersebut dapat diambil suatu pengertian bahwa apa yang terjadi dan apa yang dicipta di alam semesta ini adalah suatu kesempurnaan yang tidak sia-sia, baik sifat maupun bentuknya. Misalnya seperti : baik-buruk, indah-jelek, terpuji-tercela, siang-malam, panas-dingin, panjang-pendek, siang-malam, pria-wanita, besar-kecil dan sebagainya. Jadi suatu kesempurnaan adalah satu keseimbangan antara dua sifat atau unsure yang dikotomis atau bertolak belakang, sebab apabila hanya ada satu sifat saja atau ada baik saja, atau ada siang saja, atau ada dingin saja, hal itu bukanlah suatu yang dapat disebut sempurna.
Dengan dalih bahwa kita tidak akan sanggup mencapai derajat sempurna seperti Nabi Muhammad, banyak umat Islam merasa tidak perlu mencontoh semua apa yang telah diteladani oleh Nabi Muhammad SAW, terutama peristiwa Isra’ dan Mi’raj-nya beliau. Padahal sebagai Guru Besar bidang Tauhid Islam, beliau akan senang apabila seluruh umatnya dapat mencontoh semua teladannya., baik lahir maupun batin, bahkan beliau akan lebih senang lagi apabila ada umatnya yang dapat melebihi beliau.
Di dalam Al Qur’an telah diterangkan bahwa Muhammad SAW adalah contoh yang paling baik bagi umat manusia yang menghendaki perjumpaan dengan Allah ketika kita masih hidup di atas dunia. Hal ini sesuai dengan firman Allah ;
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan menemui Allah dan Hari Akhir dan mengingat Allah sebanyak-banyak” (QS Al Ahzab 33 : 21).
Sebagian ahli tafsir, banyak yang menterjemahkan ayat tersebut dengan iftiro atau menambah-nambahkan ayat tersebut dengan kata “mengharapkan rahmat Allah”, padahal bunyi sebenarnya adalah “Laqod kaana lakum fii Rasulillahi uswatu hasanatun liman kaana yaarjullohu walyaumil akhirawadzakarooloha kasyiron”.
Dalam ayat tersebut terdapat kata “yarjulloha” yang berarti mengharap Allah. Jadi bukan mengharapkan rahmat Allah atau mengharapkan ridha Allah, atau mengharapkan pahala Allah, atau mengharapkan rezeki Allah, tetapi yang benar adalah mengharapkan Allah semata. Bahkan kalau boleh dipertegas lagi ayat tersebut bermakna : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang paling baik bai kamu, yaitu bagi orang yang mengharapkan menemui Allah dan hari akhir dan banyak mengingat Allah”. Berdasarkan ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa Rasulullah adalah contoh yang paling baik bagi umat manusia yang ingin mengharapkan bertemu dengan Allah di dunia ini, dan juga bertemu dengan hari akhir, agar kita dapat mengingat Allah sebanyak-banyaknya. Sebab mustahil kita dapat mengingat Allah apabila kita belum pernah bertemu dan melihat Allah.
Kedua, Muhammad secara batiniah adalah suatu anasir Yang Bersifat Terpuji, yang telah dimiliki oleh setiap manusia tanpa kecuali. Tetapi yang sangat disayangkan adalah bahwa tidak semua umat manusia yang menyadari keberadaan anasir tersebut, apalagi menumbuhkannya dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga tidaklah mengherankan apabila banyak orang yang mengaku umat Muhammad atau umat yang sangat terpuji, justru banyak melakukan perbuatan tercela. Hal ini diakibatkan karena mereka belum dapat meneyerap Muhammad dalam arti nilai-nilai keterpujian, di setiap aktivitas hidupnya dalam bermasyarakat. Padahal setiap harinya mereka selalu mengatakan : “Aku telah menyaksikan bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan aku telah menyaksikan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah”. Kalimat Syahadat tersebut mempunyai makna yang sangat dalam sekali, yaitu saksinya seorang pesaksi yang menyaksikan kepada siapa dia bersaksi. Secara hakikat, makna simbolis dari “wa asyhadu an la Muhammad Rasulullah” adalah sebuah pengakuan bahwa setiap diri telah ditempati oleh anasir Terpuji yaitu Nur Muhammad, yang harus diimani dan diikuti sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur’an dan juga sabda Nabi Muhammad SAW :
“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam dirimu ada Rasulullah …” (QS Al Hujurot 49 : 7).
Katakanlah : “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” QS Ali Imran 3 : 31).
“Muhammad itu sekali-kalilah bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup Nabi-Nabi. Dan sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segalanya” (QS Al Ahzab 33 : 40).
“Orang-orang yang telah kami beri Al Kitab, mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya” (QS Al Baqarah 2 : 146).
“Ana ahmad bi la mim, wa ana ‘arabbi bi la ‘ain, wa man roaini, innaroaitul haq” Aku ahmad tanpa huruf mim dan aku adalah ‘arabbi tanpa huruf ‘ain, barang siapa melihat aku, sesungguhnya telah melihat Sang Maha Benar” (Hadits).
“Yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWT adalah Cahaya-ku, wahai Jabir (HR Ibnu jabir). “Siapa saja yang mengatakan Muhammad Rasulullah telah mati, akan saya bunuh !” (Umar bin Khatab)
“Siapa yang menyembah Muhammad bin Abdullah, beliau telah mati. Siapa yang menyembah Wajah Allah, Dia-lah Yang Maha Abadi” (Abu Bakr Ash Shidiq)
“Dan janganlah kamu anggap mati orang-orang mati di Jalan Allah, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dan diberi Rezeki” (QS 3 : 169)
“Aku adalah Ahmad tanpa huruf mim. Aku adalah ‘Arabbi tanpa huruf ‘ain. Barang siapa melihat aku, sesungguhnya ia telah melihat Al Haqq” (Hadits)
“Sebuah makam dan kubah dan menara kecil tidaklah menyenangkan bagi para pengikut Yang Maha Besar.
“Makammu bukanlah diperindah oleh batu, kayu dan plesteran.
Bukan, bukan itu, melainkan dengan menggali makam untuk dirimu sendiri dalam kesucian ruhani dan menguburkan egoisme dirimu dalam Egoisme-Nya.
Dan menjadi debu-Nya dan terkubur dalam Cinta-Nya, sehingga Nafas-Nya dapat memenuhi dan menghidupimu”
(Jalaluddin Ar Rumi)
“Ya Nabi Salam ‘alaika. Ya Rasul Salam ‘alaika. Anta Syamsun, anta Badrun, anata Nuurun fauqo Nuurin !”
Minggu, 04 Maret 2012
MI. QOMARUL WATHON adalah sekolah dasar terbaik di Lamongan wilayah. dengan perpaduan ilmu agama, ilmu pengetahuan dan teknologi. membekali siswa dengan etika dan memberikan beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi dan tidak mampu serta anak yatim. Anda ingin menjadi sponsor silahkan hubungi email: mi.plusturi@ gmail.com 085648449446
Minggu, 18 Desember 2011
SEJARAH MI. QOMARUL WATHON
http://miqomturi.blogspot.com
Sejalan dengan berkembangnya peradapan zaman yang menyelimuti bangsa-bangsa didunia khususnya indonesia setelah hampir ± 3,5 abad atau 350 tahun indonesia sengsara dan menderita akibat dijajah oleh kolonial belanda menyebabkan rakyat indonesia mengalami keterpurukan karena susahnya memperoleh pendidikan. Sementara itu tidak dapat disangkal bahwa pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk kepribadian dan perilaku manusia.
Pada era kemerdekaan tahun 1945 negara indonesia setapak demi setapak mulai memperhatikan betapa pentingnya sebuah pendidikan dan pengajaran. Di era ini masih jarang sekali adanya tempat-tempat sekolah, kalau pun ada juga modelnya bukan sekolah seperti halnya era sekarang ini tetapi masih bersifat klasik atau tradisional dimana orang-orang mendapatkan pendidikan melalui langgar-langgar, pondok pesantren bahkan juga ada rumah-rumah penduduk yang dijadikan tempat belajar. Hal ini sesuai dengan keadaan sekitar tahun 1951 tepatnya di Desa Turi Kec. Turi Lamongan, sebuah desa yang penduduknya mayoritas beragama islam ala Nahdlatul Ulama (NU) ini mulai memandang pentingnya sebuah pendidikan. Pendidikan masa itu diprioritaskan pada pendidikan keagamaan mengingat penduduk desa Turi masih banyak yang kurang memahami ajaran islam dengan benar.
Berawal dari inisiatif pemikiran salah satu tokoh masyarakat yang bernama Mbah H. Abdul Karim yang pada saat itu beliau menjabat sebagai ketua ranting Nahdlatul Ulama Desa Turi mencoba mencetuskan gagasannya untuk membentuk lembaga pendidikan[1]. Dari ide dan gagasannya itu beliau mengumpulkan tokoh masyarakat lainnya yang di anggap mempunyai kemampuan untuk di ajak bermusyawarah terkait dengan ide dan gagasannya tersebut. Orang-orang yang terlibat dalam musyawarah itu berjumlah 9 orang yang seterusnya di sebut sebagai tim sembilan, yaitu suatu tim yang mempunyai misi untuk membentuk dan mendirikan lembaga pendidikan di Desa Turi pada waktu itu. Adapun nama-nama yang tergabung dalam tim sembilan itu yaitu :
- Mbah H. Abdul Karim ( ketua Ranting NU Desa Turi tahun 1951 )
- Mbah H. Hasyim
- Mbah H. Ichsan
- Mbah H. Akbar
- Mbah Ahmad ( Kepala Desa Turi tahun 1951 )
- Mbah Marjais
- Mbah Taslim
- Mbah Mu’alim
- Mbah Ra’is.[2]
Dari sembilan orang diatas itulah yang kemudian diadakan rapat atau musyawarah untuk merencanakan pendirian lembaga pendidikan pertama kalinya di Desa Turi karena mengingat kurangnya pendidikan dan pengetahuan tentang agama islam. Pembahasan rapat tim sembilan merupakan hal yang tidak mudah karena dalam pendirian lembaga pendidikan di perlukan biaya yang sangat besar untuk menyediakan tempat dan bangunan tempat belajar, sedangkan pada waktu itu rata-rata keadaan ekonomi masyarakat Desa Turi masih menengah kebawah karena dampak dari penjajahan kolonial belanda. Rasanya tidak pantas kalau pendirian lembaga pendidikan ini harus dibebankan kepada masyarakat mengingat masyarakat masih 75 % hidup dalam kemiskinan hal inilah yang terselib dalam benak pemikiran tim sembilan tersebut, perasaan tidak tega menjadi bahan masukan dalam rapat pendirian lembaga pendidikan.
Meskipun rapat berjalan lambat karena banyak kekurangan dalam pembiayaan untuk membeli sebidang tanah dan membuat bangunan untuk lembaga pendidikan nantinya, namun masih ada jalan keluar dari hambatan dan kendala yang di hadapi tim sembilan dalam mendirikan lembaga pendidikan pertama di Desa Turi tersebut. Akhirnya rapat memutuskan dibentuknya lembaga pendidikan dengan nama madrasah Diniyah pada tahun 1951, selisih 2 tahun dari diakuinya kemerdekaan Indonesia oleh negara-negara Dunia melalui Konferensi Meja Bundar (KMB). Adapun tempat dan bangunan untuk kegiatan pengajaran seperti yang menjadi kendala rapat diatas di putuskan bahwa kegiatan mengajar di madrasah Diniyah untuk sementara waktu bertempat di Rumah Mbah H. Abdul Karim sampai mampu membeli tanah untuk membuat bangunan madrasah Diniyah sendiri dan rapat juga memutuskan Mbah H. Abdul Karim sebagai Ketua Pengurus Madrasah Diniyah sampai dengan sekitar tahun 1957.
Dalam kurun waktu ± 5 tahunan kepengurusan mbah H. Abd. Karim Madrasah Diniyah sudah mampu membeli sebidang tanah untuk didirikan bangunan madrasah nantinya. Namun mengingat lokasi yang kurang strategis, akhirnya tanah tersebut di tukarkan dengan sebidang tanah milik mbah tayeb yang ada di pinggir sungai desa turi kira-kira 15 meter sebelah selatan masjid. Kemudian dalam perkembangannya, salah satu tokoh pendiri Madrasah yang tergabung di Tim Sembilan yaitu Mbah Marja'is ( ayah dari bapak Abd. Hamid) mewakafkan tanahnya yang kebetulan tepat di sebelah selatan masjid untuk di wakafkan ke Madrasah sehingga lokasi madrasah menjadi lebar dan strategis karena berada di tengah-tengah Desa dan dekat dengan masjid.[3] Akhirnya Madrasah Turi bisa membangun gedung sendiri yang sangat sederhana, walaupun masih terbuat dari kayu preng dan berlantai tanah namun dirasa sudah cukup untuk dibuat kegiatan pembelajaran. Kemudian selanjutnya kepengurusan diteruskan oleh Mbah H. Hasyim sampai dengan tahun 1960.
Waktu terus berjalan hingga memasuki pertengahan tahun 1960 kepengurusan Madrasah Diniyah Turi di pegang oleh Ust. Fathur Rohman yang merangkap sebagai kepala sekolah. Dalam kepengurusan beliau ini terjadi banyak perubahan dan pembaharuan bahkan terdapat peristiwa yang sangat penting yaitu adanya perubahan nama Madrasah Diniyah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Qomarul Wathon.
Setelah itu memasuki tahun ± 1970 kepengurusan MI. Qomaru Wathon di pegang oleh Bapak Masman hingga tahun 1990, regenerasi kepengurusan harus lanjutkan pada kader-kader muda desa Turi, dan hasilnya kepengurusan MI. Qomarul Wathon di serahkan pada Bapak Ahsin Rohman hingga tahun 2002. untuk memacu semangat pembangunan dan perjuangan lembaga pendidikan di madrasah, maka selanjutnya kepengurusan MI. Qomaru Wathon di pegang oleh Bapak Drs. Hadi susiswo beberapa periode hingga sekarang ini.[4]
MI. PLUS QOMARUL WATHON MENCETAK GENERASI QUR’ANI
http://miqomturi.blogspot.com
U
|
nggul bukan hanya slogan semata namun unggul dibuktikan dengan fakta, begitulah kiranya MI. Plus Qomarul Wathon dalam mengemban misi taktis untuk mempertahankan dedikasi lembaga sebagai lembaga yang mempunyai karakter kuat dalam pengembangan kualitas pendidikan agama di tengah era teknologi canggih. Sudah ± 8 windu berdirinya MI. Plus Qomarul Wathon tepatnya 1951 yang berada dalam naungan Lembaga Pendidikan Ma;arif NU itu kian mantab dan konsisiten mencetak generasi yang cinta pada Al-Qur’an, tidak tanggung-tanggung dalam menyuguhkan pendidikan sisiwa-siswinya mulai jam 07.00 Wib hingga jam 15.00 Wib yang ditutup dengan sholat jama’ah Ashar, dimana pagi hingga dhuhur disampaikan pembelajaran seperti pada umumnya, kemudian ba’da dhuhur dilakukan pembelajaran yang bernuansa agamis seperti mengkaji kitab suci Al-Qur’an dan kitab kuning juga dilakukan praktek sholat.
Nuansa pembelajaran yang taktis dan dinamis tersebut mendapat respon dan dukungan yang positif dari masyarakat Desa Turi, jadi tak heran kalau MI. Plus Qomarul Wathon Mempunyai gedung termegah di wilayah kec. Turi dengan disertai fasilitas yang lengkap seperti : Lab. Komputer, Lab. Bahasa, Lab. IPA, Perpustakaan, Auditorium, dan sanggar Teater. Yang lebih membanggakan lagi bahwa pembangunan lembaga 75% adalah hasil swadaya masyarakat bahkan para alumni yang bekerja di jakarta-surabaya dan samporna setiap tahun juga mengumpulkan dana puluhan juta demi pembangunan lembaga tersebut. Kekompakan antar pengurus, guru dan masyarakat menjadikan MI. Plus Qomarul Wathon itu mendapat prediket A melalui akreditasi dari BAN-SM ( Badan kreditasi Nasional ) Propinsi Jawa Timur tahun 2010 dengan nilai 94 dan disusul oleh MI. Assyafiiyah keben kec. Turi lamongan dengan nilai 91 prediket (A).
Menyandang prediket A tidak lantas bangga begitu saja, namun MI. Plus Qomarul wathon melalui besutan K.H. Khoiri, S.Ag, M.Ag selaku kepala madrasah dan para stafnya semakin meningkatkan kualitas pendidikan antara IPTEK dan IMTAQ dan pendidikan yang bersifat karakter. Hal itu dibuktikan dengan diraihnya juara olah raga, juara LMP tingkat kecamatan juga tidak tanggung-tanggung menyabet juara I MTQ dan Tartil tingkat kecamatan selama 5 tahun berturut-turut yang diselenggarakan oleh PPAI kec. Turi Lamongan. Karena itulah masyarakat Turi menuntut untuk dapat mencetak generasi-generasi Qur’ani yang semakin cinta pada Al-Qur’an.
Langganan:
Postingan (Atom)





